RSS
email
0

Ditemukan Tulisan Tertua dari Zaman Kerajaan Daud

Arkeolog Israel menemukan prasasti tertua yang ditulis dengan bahasa Ibrani. Tulisan empat baris pada potongan tembikar yang ditemukan dari Hirbet Qeifaya, bekas kota tua di selatan Jerusalem itu diperkirakan berusia 3000 tahun.

Potongan tembikar itu ditemukan satu lapisan tanah dengan arang pohon zaitun yang diperkirakan terkubur antara 1000-975 tahun sebelum Masehi berdasarkan pengukuran karbon-14. Hal tersebut menunjukkan tulisan itu berasal dari zaman Kerajaan Daud.



Tulisan yang ditemukan Juli lalu tersusun dari karakter proto-Canaanite yang merupakan awal alfabet Ibrani yang dipakai bangsa Israel. Karakter tersebut tidak hanya dipakai dalam bahasa Ibrani, namun dari hasil identifikasi dalam tulisan tersebut terdapat kata kerja yang hanya dipakai bahasa Ibrani.

Yossi Garfinkel yang memimpin evakuasi mengatakan, temuan tersebut bukti bahwa bangsa Israel telah memiliki budaya tulis berabad-abad sebelum Injil ditulis. Hal tersebut juga menunjukkan fakta baru seperti bukti bahwa sejumlah cerita-cerita dalam Injil berdasarkan literatur tertulis dan bukan dari cerita dari mulut ke mulut.
Read more
0

Sejarah Si Pitung



Bagi masyarakat Betawi, Pitung adalah pahlawan. Ia hidup di abad 19, warga Rawabelong, dengan ayahnya, Piun, asal Cirebon dan ibunya, Pinah, dari Betawi.

Si Pitung menjadi terkenal bukan hanya karena keberaniannya melawan Belanda, tapi juga kepeduliannya terhadap nasib rakyat yang tertindas oleh kekuasaan Belanda dan tuan tanah.



“Saat itu, kehidupan sosial masyarakat sangat tidak manusiawi. Para tuan tanah tak segan-segan meminta pajak yang tinggi kepada para petani. Bila para petani tidak bisa segera membayar pajak sesuai dengan jatuhnya tempo, maka para begundal tuan tanah itu akan memaksa para petani tersebut dengan cara-cara kasar. Nah dalam situasi seperti itu, munculah Si Pitung,” kata Alwi Shahab, penulis novel Pitung, Robin Hood Betawi.

http://th07.deviantart.net/fs19/300W/i/2007/248/3/1/dimana_si_Pitung_by_ahbiasaaja.jpg
Dalam perjalanannya, Si Pitung tidak hanya melindungi rakyat dari para begundal (pendekar bayaran) para tuan tanah, tapi juga merampok harta kekayaan mereka, kemudian membagikannya kepada rakyat kecil. Terhadap sepak terjang Si Pitung ini, tidak hanya tuan tanah yang tidak tenang, tapi juga Belanda. “Jakarta tidak aman. Akhirnya Belanda menurunkan Schout van Hinne, kepala kepolisian untuk menangkap Si Pitung,” lanjutnya.

SEBAGAI seorang buron, Pitung tidak memiliki tempat menetap yang pasti. Konon, ia pernah tinggal di Kota Depok, tepatnya di salah satu gedung milik bangsawan asal Belanda, Cornelis Chastelein. Warga Depok lebih sering menyebut gedung tersebut sebagai rumah tua Pondok Cina, karena letaknya yang berada di Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji.

Sayangnya, bangunan tua yang berada di Jalan Margonda Raya tersebut sudah tidak ada. Gedung yang menjadi saksi sejarah Kota Depok tersebut sudah terkepung oleh sebuah mal supermegah bernama Margonda City. Memang, projek pembangunan Margonda City tidak sampai menggusur gedung tersebut. Meski begitu, fungsi bangunan sudah berubah menjadi sebuah kafe.

Cerita lainnya, Pitung juga pernah tinggal di Kampung Marunda, baik di Masjid Al Alam atau di rumah joglo kampung Marundo Pulo.

Banyak versi tentang hubungan Pitung dengan masjid Al Alam. Ada yang mengatakan bahwa Masjid Al Alam merupakan tempat bermain Pitung, belajar agama, belajar pukulan sampai sembunyi dari opas dan kompeni. Tapi ada juga yang mengatakan bila Pitung hanya singgah sebentar di Masjid Al Alam untuk mendirikan sholat. Dua pendapat ini menjadi tidak kuat karena tidak ada bukti fisik yang bisa menjelaskan keberadaan Pitung di Masjid tersebut, kecuali pemahaman masyarakat sekitar bahwa Pitung pernah berada di Masjid itu.
Selain Masjid Al Alam, pitung juga pernah menjejakkan kakinya di kampung Marunda Pulo, tepatnya di rumah berbentuk joglo yang terletak sekira 250 m di sebelah selatan masjid Al Alam. Seperti halnya dengan Masjid Al Alam, beragam pendapat menjelaskan hubungan Pitung dengan rumah joglo ini. Ada yang mengatakan bahwa rumah itu milik Pitung, tapi juga ada pendapat yang menjelaskan bahwa rumah itu milik orang kaya yang pernah disatroni Pitung dan para pengikutnya. “Pihak museum mengklaim itu milik si Pitung. Padahal sesungguhnya itu milik orang kaya Marunda dan pernah digarong sama Pitung,” kata M Sambo bin Ishak, wakil ketua Pengurus Masjid Al Alam.

Bukan asli
RUMAH panggung itu awalnya dibangun tiga kamar, tetapi kemudian dua di antaranya dibongkar sehingga tinggal satu kamar, tanpa perabot. Panjangnya 15 meter dan lebar lima meter. Di bagian tengahnya ada tambahan sayap di kiri-kanan, masing-masing 1,5 meter. Semuanya terbuat dari papan kayu jati, dan beberapa bagian ada besi, seperti jeruji jendela dan penyangga atap.

Tiang penopang bangunan ada 40 buah, tingginya dua meter, tinggi bangunan juga dua meter. Karena bentuknya seperti itu, ruangannya pun tampak pendek, apalagi kalau melewati pintu, pengunjung harus merunduk.

Lantai dari papan kayu jati, sebgaian masih baru. Ada sepuluh jendela yang berdaun pintu dan berjeruji, sedang dua lainnya tanpa jeruji dan daun. Siang hari jendela itu selalu dibuka. Di rumah itulah si jawara Betawi tinggal selama beberapa tahun setelah dikejar-kejar Belanda hingga akhirnya ditangkap, mati dan konon dikuburkan di Pejagalan.

Kalau air laut pasang, pekarangan dan bagian kolong rumah tergenang air laut hingga 50 cm. Cat bangunan rumah yang merah darah sudah memudar.

H Atit Fauzi, tokoh Marunda Pulo, pernah mengatakan bahwa rumah Pitung itu bukan bangunan aslinya, kecuali lokasi tempat rumah itu dibangun. Rumah aslinya dahulu milik juragan nelayan sero, yakni Haji Syafiuddin.
http://www.beritajakarta.com/images/foto/rumah_pitung_bjc.JPG
Sementara mengenai perubahan nama pemilik rumah tersebut, bermula dari usaha Pemprov DKI Jakarta untuk mengabadikan nama Pitung, dan selanjutnya ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1992.


source: haxims.blogspot.com
Read more
0

Alasan Soekarno milih tgl 17 sebagai hari kemerdekaan



17 bagi bangsa Indonesia menjadi angka sangat istimewa, sebab pada tanggal itu, bulan Agustus, tahun 1945, merupakan titik cerah bagi jutaan jiwa se-nusantara. Bung Karno sebagai proklamator menentukan tanggal 17 Agustus, bukan sebelum atau sesudahnya. Meski diculik dan diancam, Bung Karno berkeras hanya akan membacakan teks proklamasi pada tanggal 17. Mengapa? Perdebatan dalam menentukan angka 17 ternyata tidak saja menyangkut masa (timing), namun juga mempertimbangkan makna teologis, numorologis hingga mistis.


"Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,”ujar Bung Karno kepada para pemuda yang memaksanya cepat-cepat memproklamirkan republik Indonesia.

“Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, tanggal 16?" tanya Sukarni, seorang pemuda yang menginginkan kemerdekaan secepatnya.

"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.

Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur'an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,"jawab Bung Karno yang insinyur teknik sipil dari ITB itu.

Mistik. Ya, mistisisme dalam angka 17 memang luar biasa. Banyak yang percaya 17 merupakan angka pemberian Tuhan yang paling istimewa. Angka ini dibangun dari angka satu (1) dan tujuh (7) yang menggambarkan banyak hal penting.Pertama, angka 1 adalah angka Tuhan itu sendiri, yang menandakan keberadaan ke-Esa-an Tuhan agama-agama samawi. Sementara angka tujuh diistimewakan sehingga Tuhan menciptakan tujuh hari dalam satu putaran pekan dan langit dibuat berlapis tujuh.

Seorang ilmuwan Jerman terkemuka, Annemarie Schimmel yang terkenal sebagai ahli sufi Islam dan telah meneliti secara mendalam tentang rahasia angka-angka dalam dunia Islam dan peradaban manusia juga mencatat angka 7 sebagai angka paling keramat. Perempuan ini menerbitkan bukunya berjudul “The Mystery of Numbers” pada 1993 yang diterjemahkan dengan judul “Misteri Angka-angka dalam Berbagai Peradaban Kuno dan Tradisi Agama Islam, Yahudi dan Kristen” (Pustaka Hidayah, 2006).

Schimmel yakin seperti diyakini manusia sejak berabad-abad lalu, bahwa angka 7 adalah angka favorit sepanjang sejarah manusia. "Angka 7 telah memesona manusia sejak zaman dahulu kala. Angka ini dipercaya mengandung unsur magis paling tinggi," tulis Schimmel.

Tidak heran, catatnya, peristiwa-peristiwa penting di alam raya ini jatuh pada tanggal yang dibangun dengan kombinasi angka tujuh atau kelipatannya. Mislanya, 17 Ramadhan sebagai hari diwahyukannya al-Quran pertama kali, jumlah rakaat dalam lima waktu shalat sebanyak 17 kali dan sebagainya.

Demikianlah, angka melahirkan numorlog sejak Pythagoras (abad 6 SM), Plato (350 SM) hingga generasi Annemarie Schimmel (2000-an). Dalam khazanah keilmuan Islam juga dikenal nabi Yusuf, ahli perbintangan yang dengan hitungan angka-angkanya secara cermat dapat menentukan jatuhnya musim. Juga Imam Ghazali (tahun 1000-an) yang dapat menciptakan kombinasi angka-angka Arab dalam wifiq (rajah).

Sejarah panjang ilmu angka (numorlogi) membuktikan, dipercaya atau tidak, bahwa penggalian ilmu pengetahuan tentang hal ini memang sudah ada sejak dahulu kala. Di antara tafsir angka itu ada yang menyatakan: angka 1 mewakili karakter orang yang aktif, kuat, berinovasi, berbakat memimpin, sebaliknya angka 2 untuk mereka yang pasif, lemah dan suka sebagai pengikut.

Angka 3 cerdas, kreatif, beruntung, dan selalu berhasil, berlawanan dengan angka 4 yang bodoh, kurang kreatif, kurang beruntung, mudah gagal. Jiwa petualang namun rapuh ada pada angka 5, tidak akan dimiliki angka 6 yang sangat mapan. Kemisteriusan dan kesenangan menarik diri dari keramaian dunia milik angka 7, sangat berentangan dengan jiwa angka 8 yang senang terlibat urusan duniawi dan materialisme. Terakhir angka 9 yang mewakili hasrat pencapaian kestabilan mental & spiritual.

Angka-angka penting lainnya menurut numerologi Barat adalah 12 atau angka sempurna dan angka 13 atau angka sial. Pertimbangannya tak lain, banyak faktor di dunia melibatkan angka tersebut, misalnya 12 bulan dan rasi bintang, 12 jam untuk masing-masing siang-malam, 12 dewa Olympus, 12 suku Israel, 12 murid Jesus dan lainnya.

Sedangkan angka 13, dianggap angka sial, karena berada 1 poin di atas angka sempurna. Segala sesuatu yang dianggap melebihi nilai sempurna, juga akan melebihi kekuatan puncak yang dikhawatirkan justru akan melahirkan kegagalan. Angka 13 bagi bangsa Cina juga dianggap sial karena 1 dan 3 jika dijumlah menjadi 4 yang berarti kematian.

Bagaimana dengan 17? Angka ini, 1 dan 7 (17) jika dijumlahkan juga akan menghasilkan angka keberuntungan delapan (8). Bangsa Cina yang sejarah peradabannya termasuk tua itu yakin angka 8 bermakna kekayaan. Bentuk angka 8 yang tidak terputus diartikan sebagai dinamis dan berkesinambungan.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan keistimewaan angka 17 dan keyakinan mistis, Bung Karno yakin Indonesia hanya dapat keluar dari belenggu penjajahan pada tanggal 17, bukan di tanggal lain. Percaya atau tidak percaya, faktanya dengan fasilitas serba terbatas dan disiapkan dalam tempo semalam suntuk saja, pada pukul 04.00 WIB, saat fajar menyingsing, ketika waktu sahur puasa Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945 berakhir, naskah proklamasi selesai ditulis dan dibacakan pada siang hari, pukul 10.00 WIB.
Read more